Sabtu, 18 April 2009

Satu Jam Gelap, Hemat 50 Megawatt

Sebagai wujud dukungan terhadap kampanye pengurangan laju perubahan iklim global yang digagas World Wildlife Fund (WWF), selama satu jam kota Jakarta gelap gulita. Pemadaman listrik dimulai pukul 20.30 hingga pukul 21.30. Dengan aksi ini, DKI Jakarta telah menjadi bagian dari 2.848 kota di 83 negara yang turut menyukseskan kampanye lingkungan hidup internasional dengan tajuk Earth Hour. Selain DKI Jakarta, sebanyak 829 bangunan yang menjadi ikon kota-kota di dunia juga turut memadamkan lampu sebagai wujud pernyataan dukungan terhadap kegiatan ini.

Aksi pemadaman listrik di DKI Jakarta secara simbolis dipusatkan di halaman Balaikota DKI Jakarta dengan dipimpim langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Selain di Balaikota, pemadaman juga dilakukan di 14 kawasan perkantoran jajaran Pemprov DKI, 60 gedung, 200 kantor, 40 papan reklame dan 20 ribu warga berpartisipasi dalam aksi tersebut. Atas kegiatan pemadaman listrik selama satu jam tersebut, Pemprov DKI Jakarta berhasil menghemat 50 megawatt daya listrik. Sedangkan penghematan listrik dari pemadaman di seluruh wilayah Jawa-Bali mencapai 180 megawatt. “Untuk DKI Jakarta diperkirakan beban listrik berkurang sekitar 50 megawatt. Ini prestasi yang membanggakan,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta di Balaikota, Sabtu (28/3).

Kawasan perkantoran dan ikon Provinsi DKI Jakarta yang turut dalam aksi Earth Hour ini, yaitu Balaikota DKI Jakarta, Monas, Bundaran HI beserta air mancurnya, Patung Pemuda, Patung Arjuna Wiwaha beserta air mancurnya, lima kantor walikota dan kantor bupati Kepulauan Seribu, seluruh kantor kecamatan dan kelurahan DKI Jakarta serta lampu penerangan jalan bagian tengah di area Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto, Kuningan dan Medan Merdeka. Sedangkan mitra swasta yang turut berpartisipasi yaitu HSBC, CITI Bank, Garuda Indonesia, Grand Indonesia/BCA, Coca-Cola Indonesia, Panasonic Gobel Indonesia, Polygon Cycle, Sampoerna Foundation, Standard Chartered, Sharp, First Media, MC Donald’s, Procon Indah dan PWC.

Dengan turut ambil bagian dalam aksi ini, gubernur berharap, penghematan energi di DKI Jakarta dapat memberikan kontribusi terhadap efisiensi penggunaan engeri di dunia, sekaligus dalam upaya penanggulangan perubahan iklim. Kegiatan Earth Hour, sambungnya, berusaha menunjukkan perilaku sederha “Makna dari kegiatan ini, yaitu mulai saat ini kita harus melakukan pola hidup baru dengan menghemat pemakaian listrik,” ujar Fauzi Bowo.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berbasis pada pemerintah, tetapi berbasis pada keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk dapat membudayakan pola hidup hemat di masa-masa yang akan datang. Dia mengajak agar seluruh warga Jakara menjadikan kegiatan Earth Hour dan program hemat energi sebagai momentum strategis yang perlu dilakukan secara tertus menerus, konsisten dan berkelanjutan. “Jakarta harus menjadi pionir di garis yang paling depan. Karena itu, masyarakat akan terus kita imbau agar secara terus menerus melakukan aksi ini, bukan hanya sekali setahun saja. Mari kita sukseskan Earth Hour 2009,” tukasnya.

Untuk menyukseskan aksi ini, Fauzi akan melakukan gerakan berbasis komunitas agar hasilnya lebih optimal dari yang sekarang ini. Hasilnya akan lebih baik daripada melaksanakannya dari top down melalui perintah atau instruksi bahkan dengan regulasi yang ketat sekalipun.

Sementara Chief Board of Director World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Kemal Stambul, menjelaskan, produksi rumah kaca Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam satu dekade terakhir ini. Dari sisi pemakaian energi yang meningkat, khususnya listrik, menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca juga meningkat. Dan emisi gas rumah kaca di Indonesia mayoritas berasal dari perubahan tata guna lahan.
Ia menuturkan, sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi yang juga salah satu kota terbesar dengan tingkat konsumsi listrik yang tinggi yaitu sekitar 20 persen.
Pemakaian listrik terbesar di Jakarta berasal dari sektor rumah tangga dan komersial. Sementara itu baru sekitar 50 persen masyarakat Indonesia yang dapat menikmati layanan listrik, sisanya harus menerima keadaan gelap gulita di malam hari.

“Padahal listrik bukan hanya hak masyarakat di kota besar saja, melainkan hak seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu kesadaran masyarakat terutama yang berada di perkotaan harus menciptakan pola konsumsi listrik yang lebih efisien. Sehingga dapat memberikan kontribusi pada pembangunan Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan dari Sabang sampai Merauke,” kata Kema Stambul.

Untuk mendidik masyarakat perkotaan melakukan pengematan, kata Kema Stambul, salah satunya dengan melakukan kegiatan Earth Hour ini. Dan alasan WWF memilih Jakarta dalam program ini, dikarenakan peluang peningkatan efisiensi energi di Jakarta cukup besar yaitu sekitar 10-30 persen yang berasal dari sektor industri komersial, gedung pemerintah dan penerangan jalan umum serta rumah tangga.

Berdasarkan data yang dirilis WWF, dengan mematikan lampu selama satu jam di wilayah Jakarta, maka akan menghemat 10 persen dari konsumsi listrik rata-rata perjam. Daya itu cukup untuk mengistirahatkan satu pembangkit listrik dan mampu menyalakan 900 desa. Dengan dukungan penuh masyarakat, program itu juga mampu mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta, mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton, dan menghasilkan O2 bagi 568 orang.

Jakarta Gelap
Sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan Earth Hour, sejumlah wilayah di DKI Jakarta terlihat gelap. Misalnya, di Jakarta Timur. Untuk mendukung program Earth Hour, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur juga telah memberikan imbauan secara langsung kepada para camat dan lurah untuk turut menyosialisasikan kampanye perubahan iklim ini kepada pengelola gedung perkantoran swasta yang ada di wilayah masing-masing. “Semua kantor sudin, kecamatan serta kelurahan juga kami pantau agar mengikuti imbauan Gubernur DKI Jakarta untuk memadamkan lampu selama 60 menit, dan Alhamdulilah dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik,” kata Murdhani, Walikota Jakarta Timur.

Ia menuturkan, aksi pemadaman listrik selama satu jam ini sangat berarti untuk mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya melakukan penghematan energi. Apalagi kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan bertaraf internasional dengan tajuk Earth Hour yang digagas World Wildlife Fund (WWF).

Dalam kegiatan ini, Murdhani memimpin secara langsung pemadaman listrik di komplek kantor walikota Jakarta Timur dengan memutus arus listrik di ruang travo. Dalam aksi tersebut, walikota didampingi Asisten Pemerintahan Jaktim, Husein Morad serta Kasudin Kominfo Jaktim, Yunus. Setelah mematikan arus listrik, selama 60 menit, Murdhani berkumpul bersama beberapa kepala bagian dan juga asisten di halaman kantor Walikota Jaktim. “Saya harap warga jaktim baik individu maupun pengusaha yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan bumi ini,” harapnya.

Selain di Jaktim, sejumlah lokasi di wilayah Jakarta selatan juga terlihat gelap. Berdasarkan pantauan beritajakarta.com, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan terlihat gelap gulita. Suasana ini jelas berbeda dari hari-hari biasanya. Selain lampu penerangan jalan, beberapa gedung perkantoran pemeritahan maupun swasta juga terlihat telah gelap. Akibatnya, selama satu jam tersebut, di kawasan ini hanya terlihat lampu-lampu kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat yang hilir mudik baik dari arah Menteng menuju Mampang maupun dari arah sebaliknya.

Hal yang sama juga terlihat di Pasar Festival. Hanya saja sejumlah lampu hias tidak dipadamkan, sehingga masih terlihat menyala dan membuat suasana tidak terlalu gelap. Otma Ijon (43), salah seorang sopir taksi, mengaku tidak tahu dengan adanya rencana pemadaman secara serentak ini. “Waduh, nggak tahu itu, kenapa ini tiba-tiba jadi gelap tidak seperti biasanya,” kata sopir taksi yang mengaku tiap malam mangkal di depan Pasar Festival tersebut.

Sementara di Jakarta Barat, kegiatan Earth Hour nampaknya tidak berjalan dengan baik. Sebab, sebagian besar gedung perkantoran swasta di Kawasan Cengkareng dan Kembangan tidak memadamkan lampu. Namun tidak demikian dengan gedung-gedung perkantoran pemerintah.

Wakil Walikota Jakarta Barat, Burhanuddin mengatakan, Pemkot Jakbar telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar bersedia memadamkan lampu selama satu jam pada pukul 21.00 hingga 22.00 melalui kecamatan dan kelurahan. “Dalam rapat koordinasi Jumat kemarin, walikota sudah mengimbau agar camat dan lurah mengajak masyarakat untuk memadamkan lampu, karena ini bentuk kepedulian atas komitmen bersama manusia didunia ini,” kata wakil walikota.

Terkait dengan peran serta masyarakat dan kesadaran masyarakat yang tergolong rendah, mantan Sekko Jakarta Timur ini mengatakan, pemadaman lampu di semua sektor dan bidang baik perusahaan, pemerintahan, dan masyarakat umum hanya sekedar ajakan dan tidak ada tekanan. “Sifatnya ajakan. Jadi, tidak ada sanksi atau paksaan untuk melakukan itu. Ya, kita berharap semua elemen di Jakbar dapat berpartisipasi,” tandasnya.

Untuk menyukseskan kegiatan Earth Hour di Jakarta, kawasan Monas di Jakarta Pusat juga menjadi bagian kegiatan akbar ini. Selama satu jam kawasan Monas terlihat gelap. Seluruh lampu taman yang ada di areal seluas 80 hektar ini dipadamkan, dan hanya lampu sorot yang menyinari puncak tugu Monas saja yang terlihat menyala. Kendati kawasan Monas terlihat gelap, namun tak menyurutkan semangat warga Jakarta untuk menyaksikan pelaksanaan kampanye pengurangan laju perubahan iklim global di DKI Jakarta. Warga Jakarta yang berkunjung ke kawasan Monas tampak terhanyut merenungi betapa pentingnya melakukan penghematan energi demi kelangsungan kehidupan di bumi.

Selain di kawasan Monas, sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta Pusat juga tampak gelap. Diantaranya, Jalan MH Thamrin, Jalan Budi Kemulyaan, Jalan Raya Kebon Sirih, Jalan Merdeka selatan, dan Jalan Merdeka. Situasi gelap juga terlihat di sejumlah gedung perkantoran, diantaranya gedung perkantoran Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Komplek perkantoran Bank Indonesia (BI), Gedung Indosat, Balaikota DKI Jakarta, dan Gedung Pertamina.

Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni mengungkapkan, pemadaman listrik ini sesuai dengan instruksi dari Gubernur DKI Jakarta. Dan kegiatan ini juga diikuti sebagian besar pengelola gedung perkantoran swasta dan pemerintah yang ada di wilayah Jakarta Pusat. “Hampir seluruh titik sudah kita sosialisasikan dan kita imbau untuk melakukan pemadaman kecuali rumahsakit,” kata walikota.

Menurutnya, sosialisasi telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan kegiatan Earth Hour dengan cara memasang spanduk-spanduk yang berisi ajakan untuk memadamkan listrik yang dilaksanakan oleh pihak kelurahan hingga Kecamatan di wilayah Jakarta Pusat. “Selain sepanduk, kita juga menyebar beberapa sms (short message sevice-red) serta mengirimkan imbauan melalui e-mail kepada jajaran pegawai di lingkungan Jakpus untuk menyukseskan kegiatan ini,” tandas mantan None Jakarta itu.@SumberBeritajakarta.com

kisah Tragedi Situ Gintung

Tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung memasuki ranah hukum. Sebagai langkah awal untuk mengusut peristiwa yang menewaskan sedikitnya 100 warga dan puluhan lainnya hilang, tiga pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten (Pemkab) Tangerang dan Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) diperiksa Polda Metro Jaya. Pemeriksaan terkait kebijakan, kewenangan pemeliharaan, dan perawatan serta pengawasan Situ Gintung.

Polisi menduga ada unsur kelalaian dan pembiaran terhadap perawatan Situ Gintung. Ketiga pejabat itu adalah Kepala Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Tangerang Selatan (Tangsel) Eddy Adolf Nicolas Malonda, Kepala Bina Marga Kabupaten Tangerang Dedi Sutardi, dan mantan Kepala PU Kabupaten Tangerang Hermansyah yang kini menjabat pelaksana harian (Plh) Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang.

Sumber menyebutkan, setelah pemeriksaan terhadap ketiga pejabat itu, kemungkinan besar kasus Situ Gintung juga akan menyeret Walikota Tangsel yang juga saat ini masih merangkap sebagai Kepala Dinas Bina Marga dan Tata ruang Provinsi Banten, M. Saleh. Selain Saleh, kata sumber, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah juga akan diperiksa.

Pemeriksaan terhadap Eddy Adolf Nocolas Malonda, Dedi Sutardi dan Hermansyah diungkapkan Kepala Satuan Tindak Pidana Korupsi Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Aris Munandar kepada wartawan, Rabu (1/4) lalu. “Kita sudah melayangkan surat panggilan. Status ketiganya masih sebagai saksi,” ujarnya.

Menurut Aris, terseretnya ketiga pejabat tersebut berawal dari investigasi yang dilakukan tim Sat Tipikor Polda Metro Jaya. Hasil investigasi, kata Aris, diklarifikasi dengan ketiga pejabat yang berwenang, yakni Kepala PU Kabupaten Tangerang Selatan, Kepala Binamarga Kabupaten Tangerang, dan mantan Kepala PU Kabupaten Tangerang.

Masih kata Arismunandar, ketiga pejabat akan diminta menjelaskan penggunaan anggaran yang dipergunakan untuk perawatan Situ Gintung. Termasuk, penggunaan dana dari hasil restribusi yang ditarik dari masyarakat yang masuk ke kawasan Situ Gintung.

“Arahnya, pemeriksaan akan berkembang ke masalah dugaan adanya tindak pidana korupsi (Tipikor) pada proyek Situ Gintung hingga mengakibatkan perawatan dan pemeliharaan Situ Gintung terbengkalai dan berujung dengan petaka,” jelasnya.

Untuk mengungkap kasus ini, Polda Metro Jaya terus mengumpulkan sejumlah bukti dan keterangan sejumlah saksi. Penyelidikan tim Ditkrimum akan difokuskan ke soal dugaan adanya unsur kelalain dan proses pembiaran para pejabat instansi yang bertanggung jawab. Pasalnya, Polda Metro Jaya memperoleh informasi bahwa sebelum petaka terjadi, masyarakat sudah beberapa kali melaporkan kondisi Situ Gintung yang semakin memprihatinkan. Tetapi, laporan warga tidak direspons pihak berwenang, hingga petaka yang menelan korban ratusan jiwa terjadi.

Sementara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta Slamet Daroyni mendukung langkah hukum yang ditempuh Polda Metro Jaya. Menurut Slamet, langkah yang ditempuh Polda Metro Jaya untuk memberikan rasa keadilan bagi para korban. Karena menurutnya, Petaka Situ Gintung yang terletak di Kampung Gintung, Jl Gunung Raya, Rt 03/08, Cireundeu, Tangsel, Banten, Jumat (27/3), terjadi karena unsur kelalaian dan adanya proses pembiaran.

“Tim advokasi Walhi DKI Jakarta juga sedang bekerja untuk mencari bukti dan mengumpulkan informasi,” terangnya.

Menurut Slamet, hasil tim tersebut, nantinya akan dirumuskan dan dibahas dengan tim hukum Walhi sebelum dilaporkan ke pihak kepolisian. Masyarakat di sekitar Situ Gintung, termasuk ketua RT. Slamet menambahkan, sudah beberapa kali melaporkan ke pemerintah setempat ihwal kekhawatiran mereka terhadap kondisi bendungan. Namun, tidak pernah mendapat respons, apalagi melakukan langkah pencegahan.

Terkait petaka yang merenggut nyawa warga itu, sejumlah warga dan tokoh masyarakat Tangerang meminta polisi secepatnya menahan ketiga pejabat itu, dan memeriksa Bupati Tangerang, Ismet Iskandar. Karena dikhawatirkan ketiga pejabat dan mantan pejabat PU itu akan menghilangkan barang bukti. Warga juga berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi para pejabat di tanah air untuk lebih mengawasi keberadaan situ di wilayah masing-masing. Karena musibah ini tidak terlepas dari kecerobohan instansi terkait.

Tolak Relokasi
Di tempat terpisah, para korban musibah jebolnya tanggul Situ Gintung menolak tawaran pemerintah bila harus di relokasi ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Amah (60), seorang pengungsi mengaku dirinya merasa tak nyaman jika harus tinggal di rusunawa. Ia pun khawatir bila tinggal di rumah susun yang minim fasilitas seperti air. Wanita tua yang tinggal di Kampung Gintung RT 04/08 ini mengaku, rumah yang ditempatinya tidak mengalami kerusakan yang begitu parah. Rumahnya hanya terendam saja.

“Kalau pemerintah harus merelokasi, saya minta uang penggantinya saja yang layak,” katanya.
Sementara Walikota Tangsel HM Shaleh MT menyebutkan, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan sejumlah warga korban Situ Gintung, dan mereka tak ingin di relokasi atau menempati rumah yang bakal dibangun pemerintah di lahan kosong milik negara. “Warga meminta ganti uang untuk membangun rumah yang sekarang kondisinya telah hancur,” jelasnya.@TERASNETWORK

Rabu, 25 Februari 2009

Selasa, 10 Februari 2009

Seni Memimpin ala SBY

Ada referensi bagus untuk para pembaca yang tertarik dengan kepemimpinan, atau Anda yang memiliki keharusan untuk memimpin bawahan anda berkaitan dengan jabatan yang anda pegang saat ini.
Seni Memimpin ala SBY, ditulis langsung oleh Dr. Dino Patti Djalal, Juru Bicara Kepresidenan untuk urusan luar negeri.

Ada banyak hal menarik dari sosok presiden ke-6 Republik Indonesia ini yang sebelumnya mungkin tidak diketahui publik. Dalam buku ini Dino membagi pengalaman dan pelajarannya dari sosok SBY dalam enam bagian besar yakni ‘Memimpin dalam Krisis’, ‘Memimpin dalam Perubahan’, ‘Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan’, ‘Memimpin Tim dan Membuat Keputusan’, ‘Memimpin di Pentas Dunia’, dan ‘Memimpin Diri Sendiri’. Masing-masing bagian ini berisi berbagai cerita yang sarat dengan pesan positif.

Dalam bagian ‘Memimpin dalam Krisis’, Dino memaparkan pengalaman dan pengamatannya atas respon SBY yang cepat tanggap dan real time dalam menghadapi berbagai permasalahan yang bersifat kritis. Sebagai contoh, SBY langsung bergerak cepat membuat konferensi pers internasional pada pk 02.15 WIB di Istana Negara begitu mendengar pesan penting bahwa ada dua wartawan Metro TV (Meutya Hafid dan Budianto) yang diculik oleh teroris Irak. SBY juga mampu membaca bencana Tsunami di Aceh sebagai peluang perdamaian dengan GAM.

Pada bagian ‘Memimpin dalam Perubahan’, SBY juga telah melakukan beberapa dobrakan dalam rangka mengefisienkan birokrasi Indonesia yang terkenal sangat rumit dan lama. Setelah SBY memberi perintah untuk mengifisienkan pelayanan birokrasi bagi para investor, waktu untuk memulai usaha pun menurun drastis dari 155 hari menjadi 59 hari di awal 2007. SBY juga senantiasa berpikiran positif, lebih memilih untuk merangkul seluruh lawan-lawan politiknya, taat sistem, dan terutama mampu mencari solusi masalah ketimbang beretorika.

Bagian ‘Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan’ memuat karakter SBY yang senang terjun ke daerah untuk mendengarkan keluhan rakyat secara langusng (common touch). Di samping itu, SBY tidak pernah tergiur oleh KKN dan ingin agar kantor presiden hemat, profesional, transparan, dan bersih (hlm 163). Dino mencatat sebuah pelajaran berharga ketika SBY lebih memilih datang sendiri ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan kasus pencemaran nama baiknya oleh Zaenal Ma’arif daripada memanggil polisi ke Istana. Kebesaran hati SBY ditunjukkan ketika beliau memaafkan Zaenal Ma’arif melalui sepucuk surat.

Dalam ‘Memimpin Tim dan Membuat Keputusan’, Dino memaparkan cara dan gaya kepemimpinan SBY yang lebbih memilih memilih sendiri setiap anggota timnya dan peka terhadap timing. Sebagai contoh, SBY lebih memilih untuk kembali ke Jakarta secepatnya ketika mendengar kabar kesehatan Soeharto yang makin memburuk daripada menyanggupi tawaran menyanyi dari Perdana Menteri Badawi. SBY juga memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin yang baik bertindak: teliti terhadap detil, obyektif, dan mampu mengambil keputusan di mana saja, kapan saja (a day of decisions).

Bagian ‘Memimpin di Pentas Dunia’ menjadi bagian yang sangat menarik karena Dino mampu memotret gaya kepemimpinan SBY yang bersifat nasionalis sekaligus internasionalis, dilengkapi dengan berbagai contoh yang menarik. Di bawah pemerintahan SBY, citra internasional Indonesia perlahan tapi pasti mulai meningkat seiring dengan peningkatan peran diplomasi RI yang makin aktif. RI sukses menjadi anggota DK Tidak Tetap PBB. RI juga berhasil menjadi tuan rumah UNFCCC di Bali dengan kesuksesan menghasilkan Bali Roadmap. SBY pun berhasil melahirkan inovasi diplomasi dengan mengeluarkan ide Global Inter-Media Dialogue (GIMD) yang mendapat respon sangat positif.

Pada bagian terakhir yang berjudul ‘Memimpin Diri Sendiri’, SBY memperlihatkan sosok pemimpin negara yang sangat berintegritas mulai dari hal-hal kecil seperti menghormati waktu. Dino bahkan menulis bahwa jika kita dijadwalkan bertemu presiden, sebaiknya kita tiba 30 menit sebelumnya karena beliau sudah akan siap di kantornya 15 menit sebelumnya. Waktu ini beliau gunakan untuk melihat CV tamu dan mendapat paparan mengenai isu yang akan dibahas dalam pertemuan (hlm 384).

Selama menjadi presiden, SBY juga tidak pernah berusaha ‘menjadi orang lain’ dan tidak mendewakan kekuasaan (yang antara lain dibuktikan dengan pelaporan kasus Zaenal Ma’arif ke Polda Metro Jaya sebagai warga negara biasa). Dino juga menilai SBY memiliki mental dan fisik yang tangguh sebagai seorang presiden. Ritme kerja SBY sangat cepat. Meski demikian, beliau tidak pernah tertidur saat duduk berjam-jam dalam situasi apapun.

Dengan demikian, buku ini kiranya dapat menjadi sebuah referensi yang sangat positif bagi siapapun apalagi bagi para calon pemimpin. Buku ini menjadi semakin menarik bukan saja karena ditulis dari sudut pandang ‘orang dalam’ presiden. Dino mampu memformulasi catatan hariannya menjadi fragmen-fragmen kisah menarik yang memungkinkan pembaca menarik sendiri pesan-pesan dari berbagai kisah kepemimpinan ala SBY.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa buku ini berhasil membawa nuansa dan wawasan baru dari buku-buku lain bertema serupa karena yang disorot adalah sosok langsung seorang presiden. Buku ini bukanlah buku teori tentang kepemimpinan melainkan buku yang secara langsung menggambarkan kepemimpinan SBY sebagai seorang presiden, sekaligus sebagai seorang manusia. Untuk itu, buku ini hendaknya dilihat secara objektif sebagai salah satu buku kepemimpinan yang menggemakan pesan-pesan positif bagi kemajuan Indonesia.

Senin, 29 Desember 2008

Wind Enegy Indonesia

Background
Wind is a form of solar energy. The uneven heating of the atmosphere by the sun, the irregularities of the earth's surface, and rotation of the earth cause winds. Wind flow patterns are modified by the earth's terrain, bodies of water, and vegetation. Humankind uses this wind flow, or motion energy, for many purposes, to name a few: flying a kite/zeppelin, sailing, grinding grain, pumping water, and even generating electricity.
The terms wind energy or wind power describe the process by which the wind is used to generate mechanical power or electricity. Wind turbines convert the kinetic energy in the wind into mechanical power. This mechanical power can be used for specific tasks (such as grinding grain or pumping water) or a generator can convert this mechanical power into electricity.
A wind turbine works the opposite of a fan. Instead of using electricity to make wind, like a fan, wind turbines use wind to make electricity. The wind turns the blades, which spin a shaft, which connects to a generator and makes electricity. Large and modern wind turbines operate together in wind farms to produce electricity for utilities, while homeowners and remote villages, to help meet their energy needs, use small turbines.
Indonesia has relatively available potential site for wind energy utilization, but its utilization is still low. Currently, research and efforts are continuously conducted to open the possibilities of increasing the wind energy utilization.
Advantages/Disadvantages of Wind Energy
Despite its disadvantages, wind energy offers many advantages, which explains why it's the fastest-growing energy source in the world. Research efforts are aimed at addressing the challenges to larger use of wind energy.
Advantages
1. Because wind energy is fueled by the wind, a clean fuel source, it makes wind energy a clean energy. Wind energy does not pollute the air like common power plants that rely on combustion of fossil fuels, such as coal or natural gas. Wind turbines do not produce harmful emissions that cause acid rain or greenhouse gasses, so it is environmentally friendly.
2. Wind energy is a domestic source of energy, produced in the Indonesia . The nation's wind supply is relatively available (especially in the eastern part).
3. Wind energy relies on the renewable power of the wind, which cannot be used up. As already mentioned, wind is actually a form of solar energy.
4. Nowadays, wind energy is one of the lowest-priced renewable energy technologies available. Depending upon the wind resource and project financing of the particular project, wind energy cost less than 6 cents USD per kilowatt-hour (for potential site with wind speed > 5 m/s or offshore).
5. Wind turbines can be constructed on farms or ranches, thus benefiting the economy in rural areas, where most of the best wind sites are found. Farmers and ranchers can continue to work the land because the wind turbines use only a fraction of the land. Wind power plant owners make rent payments to the farmer or rancher for the use of the land.
Disadvantages
1. Wind power must compete with conventional generation sources on a cost basis. Depending on how energetic a wind site is, the wind farm may or may not be cost competitive. Even though the cost of wind power has decreased dramatically in the past 10 years, the technology requires a higher initial investment than fossil-fueled generators (and even other renewable based generators).
2. The major challenge to using wind as a source of power is that the wind is intermittent and it does not always blow when electricity is needed. Wind energy cannot be stored (unless batteries are used); and not all winds can be harnessed to meet the timing of electricity demands.
3. Suitable wind sites are often located in remote locations, far from cities where the electricity is needed.
4. Wind resource development may compete with other uses for the land and those alternative uses may be more highly valued than electricity generation.
5. Although wind power plants have relatively small impact on the environment compared to other conventional power plants, there is some concern over the noise produced by the rotor blades, aesthetic (visual) impacts, and sometimes birds have been killed by flying into the rotors. Most of these problems have been resolved or greatly reduced through technological development or by properly siting wind plants.
General Condition in Indonesia
• Wind energy development is part of national energy program in order to realize a sustainable supply and utilization of energy.
• There are some potential locations in the country for wind energy utilization.
• Installed capacity for wind power is relatively still small compared to its potential.

ATASI BANJIR DENGAN TEKNOLOGI LUBANG RESAPAN BIOPORI

Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air yang mengalir, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS Az-Zumar:21).
Ayat Al-Quran itulah yang menjadi dasar Peneliti Institut Pertanian Bogor yang juga staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB Ir. Kamir R. Brata, Msc mengembangkan penemuan ilmiahnya tentang Lubang Serapan Biopori untuk mencegah banjir. Ia juga memanfaatkan sampah organik, untuk menghidupkan mahkluk kecil dalam tanah yang berguna sebagai penghasil sumber air baru.
Teknologi ini diawali dengan pembuatan lubang sedalam 120 centimeter atau disesuaikan dengan jenis tanah, dengan diameter sekitar 10 centimeter. Langkah selanjutnya adalah memasukan sampah lapuk dua sampai tiga kilogram tergantung jenisnya ke dalam lubang tersebut, lalu tutup dengan kawat jaring agar orang yang menginjaknya tidak terperosok.
Teknologi ini menurut Kamir, bisa diterapkan diselokan yang seluruhnya tertutup semen ataupun dihalaman rumah. Air hujan yang masuk dengan mudah ketanah dan terserap ke dalam lubang yang bisa dibuat lebih dari satu itu. Bagaimana perjalanan Kamir R. Brata sampai menemukan teknologi Lubang Serapan Biopori ini? Berikut bincang-bincan eramuslim di tempat kediamannya di Bogor.
Sebenarnya apa yang mengilhami anda menemukan teknologi baru seperti ini?
Saya terinspirasi bahwa segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini tidak mubazir. Air penting bagi kehidupan jangan dibuang, sampah juga penting jangan dibuang. Sudah jelas masalahnya, karena itu saya menggunakannya dalam penelitian ini. Semua orang dapat memanfaatkannya tanpa alasan, dengan segera, agar tidak terlalu banyak kemubaziran dan kita dapat merasakan manfaatnya.
Yang banyak terjadi sekarang para ahli dan orang selalu digoda setan, dan menggampangkan permasalahan yang bisa berdampak besar. Misalnya biar saja buang sedikit sampah ataupun air dari atas pegunungan. Sedikit mula-mula memang tidak membahayakan. Tetapi kalau semua melakukannya pasti akan terjadi musibah.
Saya selaku orang Muslim, menyadari bahwa pelaksanaan ibadah yang dilakukan harus disertai dengan ketaatan kita dalam menjalankan perintahNya. Hal itu dapat terlihat kalau kita tidak mentaati apa yang menjadi perintah Tuhan, Dia akan menurunkan berbagai cobaan dan musibah. Karena itu, sebagai seorang ahli yang mengetahui sistem ekologi tanah, di mana antara ekosistem antara makhluk hidup yang berada di dalam tanah dan makhluk yang tak hidupnya saling ketergantungan, maka kita perlu mengupayakan agar ekosistem tanah tetap utuh dan tidak rusak demi kelangsungan kedua jenis makhluk yang ada didalamnya.
Sampah yang kita buang, lama kelamaan semakin banyak dan akan menjadi beban bagi lingkungan, dan juga beban bagi manusia, karena tempat tinggalnya harus dipakai untuk membuang sampah. Banyak juga yang berinisiatif membuangnya kesungai ataupun saluran air, itupun akan menimbulkan dampak baru yakni meluapnya air sungai.
Karena itu saya berupaya mencari sebuah teknologi dan sebagai orang yang beragama pun saya terpanggil untuk melakukan perubahan. Kita memang sudah mengenal yang namanya sumur resapan air, tapi proses itu masih belum bisa mencegah kemubaziran, karena tanahnya, hasil galian yang tidak sedikit itu harus dibuang ke tempat lain. Selain itu air yang meresap tidak terlalu banyak, sangat sulit memeliharanya.
Atas pemikiran itu serta dengan alasan saya mengetahui makhluk Tuhan yang ada di dalam tanah perlu dibantu untuk terus mendapatkan makanan dari bahan organik, maka saya mencoba membuat Lubang Serapan Biopori ini.
Sebenarnya apa yang menjadi keunggulan teknologi ini?
Air merupakan bagian dari makhluk hidup ada yang menyerap 50 persen dalam badannya, ada yang 80 persen, tanpa air makhluk hidup akan mati. Selain membutuhkan air, makhluk hidup membutuhkan oksigen dan juga makanan. Yang bisa menghidupi itu adalah mereka yang bisa memanfaatkan sinar matahari untuk berfotosintesis yakni tumbuhan dan tanaman, mereka membutuhkan makanan dan energi yang diserap melalui akar yang ada ditanah. Proses ini terjadi dengan sempurna apabila kandungan air dalam tanah cukup dan tidak berlebihan.
Jika air tanah masih utuh maka kerja makhluk di bawah tanah ini akan mengganti air yang hilang karena penguapan diambil oleh tanaman dan manusia, dan perlahan-lahan muncul sumber air baru yang akn dialirkan ke sungai, untuk danau dan situ-situ, serta dapat mendorong air asin tidak masuk kedarataan. Itu akan terjadi jika air cukup diserap oleh tanah. Sebagian orang menganggap itu kerja dari hutan, lantaran mereka melas mengurusnya lagi maka sedikit demi sedikit hutan diubah menjadi kebun yang jelas fungsinya berbeda. Ini yang lama kelamaan diselewengkan.
Saya mencoba berpikir bahwa lubang-lubang kecil bisa dibuat oleh siapapun, katakanlah hutan yang tidak ada penghuninya saja mempunyai lubang-lubang kecil atau Biopori. Kenapa disebut Biopori, sebab lubang yang dibuat itu diisi dengan bahan organik, mulanya cacing, dan di situ tidak ada pencemaran, karena bahan organik semuanya akan larut dan hilang, dan di dalam lubang itu terdapat celah-celah cabang.
Dengan teknologi ini, kita membuat tempat untuk makhluk hidup untuk penyerapan air, dengan memanfaatkan apa yang harus kita buang. Namun yang tidak semua jenis sampah yang bisa ditampung, khusus sampah organik saja. Oleh karena itu yang paling dibutuhkan dalam penerapan teknologi ini adalah kesadaram untuk tidak membuang sampah karena sampah itu adalah sumber daya, apapun jenis sampahnya. Sampah yang tidak lapuk bisa dimanfaatkan oleh pemulung menjadi bahan industri.
Karena itu ubahlah kebiasaan kita, agar selalu memisahkan sampah organik dan non organik. Serta jangan selalu membuang sampah di tempat penampungan, selain menimbulkan bau, sarang lalat, dan tikus, juga dapat merusak lingkungan. Apalagi jika diendapkan di tempat pembuangan akhir sampah, itu akan lama lapuknya dan dapat menghasilkan zat metana yang apabila tidak disalurkan bisa meledak seperti yang terjadi di TPA Luwi Gajah.
Teknologi ini bisa diterapkan di mana saja?
Karena sejak awal saya memikirkan bahwa ini sangat mudah untuk diterapkan, maka tidak ada alasan bagi orang yang membuang sampah dan menggunakan air untuk tidak melakukannya. Artinya setiap orang yang menghasilkan sampah dan menggunkan air maka semua wajib memproses sampahnya sendiri, jangan dibuang ke tempat lain, demikian juga dengan air. Mau lahannya sudah ditutup oleh bangunan ataupun jalan, apalagi yang masih terbuka harus melakukan cara ini. Kenapa ini diwajibkan, jangankan yang tertutup dengan bidang kedap yang dibuat manusia, lahan pertanian dan perkebunan yang masih kosong saja teknologinya membuat kelebihan air untuk dibuang.
Dengan teknologi ini semua orang dapat memanfaatkan air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di mana saja. Karena curah hujan ini tidak hanya jatuh dikawasan situ saja, sehingga yang paling gampang agar tidak membebani lingkungan, semua orang harus membuat peresapan itu dengan baik. Setelah saya terangkan dengan mudah, diharapkan ini bisa diterapkan oleh semua orang.
Apakah ini bisa meminimalisir banjir seperti yang terjadi di kota Jakarta?
Air menjadi penyebab banjir kalau drainase tidak bisa menampung air saat itu. Jika hujan jatuh secara merata bukan di sungai, di daratan kita resapkan dan meresapnya juga perlahan-lahan, itu akan menjadi sumber air baru. Kalau tidak diresapkan darimana pun air berasal, hutan, kebun maupun pemukiman kalau dibiarkan akan membebankan sungai. Apalagi kalau ditambah dengan sampah yang dibuang sembarangan. Ini akan menjadi sumbatan bagi sungai dan menimbulkan pencemaan baru bagi sumber air. Jika teknologi ini diterapkan maka banjir yang lima tahunan terjadi pasti tidak seberat sekarang ini. Saya menganggap banjir yang terjadi ini disebakan rencana umum tata ruang yang belum dilakukan dengan baik.
Penemuan anda ini sepertinya harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat, apakah ada upaya dari IPB bekerjasama dengan pihak lain untuk membangkitka kesadaran masyarakat itu?
Setelah ada media yang mulai mengangkat hasil penelitian ini, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral, setelah mengetahui ada teknologi yang mudah, dan kira-kira semua orang bisa menerapkannya. Saya mewacanakan ini. Dan untuk merubah kebiasaan masyarakat, harus ada perubahan persepsi, bahwa sampah itu jangan dibuang. Memang tidak mudah, karena pasti mereka berfikiran sampah akan mencemarkan pemukiman kita.
Apakah penemuan teknologi lubang serapan Biopori ini sudah anda sosialisasikan kepada pemerintah dan apa tanggapan dari pemerintah?
Saya sudah tawarkan pada Departemen Pertanian, tapi belum ada tanggapan. Karena itu saya mencoba sosialisasikan melalui anda (media), meskipun tidak secara langsung, namun paling tidak ini dapat menjadi pilihan bagi masyarakat. Saya akui ini memang agak sulit untuk disebarkan langsung, karena aparat dibawahnya masih mengikuti petunjuk teknis dari departemen terkait. Tetapi jika departemen mengetahui ada pilihan yang lebih aman, bisa melakukannya.
Apa kelemahan hasil penemuan anda ini, misalnya saja sampah organik ini busuk dan menjadi bau?
Saya sedang menanti-nanti apa yang menjadi kelemahannya. Menurut saya, kalau bahan organik itu berada pada lubang yang kecil bisa masuk cacing, proses itu akan diuraikan, tidak mungkin menjadi kotor dan bau. Tetapi kalau lubang besar, busuk, karena terlalu banyak, sampah sulit diuraikan. Karena itu sampah harus disebarkan, jangan hanya berada disatu tempat. Hasilnya itu juga bisa dijadikan kompos.
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk lubang serapan Biopori ini?
Kalau untuk membuat lubangnya, kita hanya memerlukan bor tanah. Paling mudah karena dapat dilakukan secara manual dengan bor tanah dengan harga 200-300 ribu dan itu bisa dipakai oleh puluhan orang dalam waktu yang lama. Dapat dipakai untuk membuat lubang tambahan. Jika dibandingkan dengan sumur serapan, biayanya akan lebih mahal. Dengan lubang kecil ini air akan menyerap lebih cepat, karena air yang masuk sedikit dan menyebar. Untuk penerapan teknologi ini biayanya tidak terlalu besar, tetapi efektivitasnya lebih besar

Kamis, 04 Desember 2008

Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.
Sumber
Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.
Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat.
Kegiatan manusia
• Transportasi
• Industri
• Pembangkit listrik
• Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar)
• Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
Sumber alami
• Gunung berapi
• Rawa-rawa
• Kebakaran hutan
• Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi
Sumber-sumber lain
• Transportasi amonia
• Kebocoran tangki klor
• Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhir sampah
• Uap pelarut organik
Jenis-jenis pencemar
• Karbon monoksida
• Oksida nitrogen
• Oksida sulfur
• CFC
• Hidrokarbon
• Ozon
• Volatile Organic Compounds
• Partikulat
Dampak
Dampak kesehatan
Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.
Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.
Dampak terhadap tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
Hujan asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
• Mempengaruhi kualitas air permukaan
• Merusak tanaman
• Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
• Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
• Pencairan es di kutub
• Perubahan iklim regional dan global
• Perubahan siklus hidup flora dan fauna
Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.