Sebagai wujud dukungan terhadap kampanye pengurangan laju perubahan iklim global yang digagas World Wildlife Fund (WWF), selama satu jam kota Jakarta gelap gulita. Pemadaman listrik dimulai pukul 20.30 hingga pukul 21.30. Dengan aksi ini, DKI Jakarta telah menjadi bagian dari 2.848 kota di 83 negara yang turut menyukseskan kampanye lingkungan hidup internasional dengan tajuk Earth Hour. Selain DKI Jakarta, sebanyak 829 bangunan yang menjadi ikon kota-kota di dunia juga turut memadamkan lampu sebagai wujud pernyataan dukungan terhadap kegiatan ini.
Aksi pemadaman listrik di DKI Jakarta secara simbolis dipusatkan di halaman Balaikota DKI Jakarta dengan dipimpim langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Selain di Balaikota, pemadaman juga dilakukan di 14 kawasan perkantoran jajaran Pemprov DKI, 60 gedung, 200 kantor, 40 papan reklame dan 20 ribu warga berpartisipasi dalam aksi tersebut. Atas kegiatan pemadaman listrik selama satu jam tersebut, Pemprov DKI Jakarta berhasil menghemat 50 megawatt daya listrik. Sedangkan penghematan listrik dari pemadaman di seluruh wilayah Jawa-Bali mencapai 180 megawatt. “Untuk DKI Jakarta diperkirakan beban listrik berkurang sekitar 50 megawatt. Ini prestasi yang membanggakan,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta di Balaikota, Sabtu (28/3).
Kawasan perkantoran dan ikon Provinsi DKI Jakarta yang turut dalam aksi Earth Hour ini, yaitu Balaikota DKI Jakarta, Monas, Bundaran HI beserta air mancurnya, Patung Pemuda, Patung Arjuna Wiwaha beserta air mancurnya, lima kantor walikota dan kantor bupati Kepulauan Seribu, seluruh kantor kecamatan dan kelurahan DKI Jakarta serta lampu penerangan jalan bagian tengah di area Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto, Kuningan dan Medan Merdeka. Sedangkan mitra swasta yang turut berpartisipasi yaitu HSBC, CITI Bank, Garuda Indonesia, Grand Indonesia/BCA, Coca-Cola Indonesia, Panasonic Gobel Indonesia, Polygon Cycle, Sampoerna Foundation, Standard Chartered, Sharp, First Media, MC Donald’s, Procon Indah dan PWC.
Dengan turut ambil bagian dalam aksi ini, gubernur berharap, penghematan energi di DKI Jakarta dapat memberikan kontribusi terhadap efisiensi penggunaan engeri di dunia, sekaligus dalam upaya penanggulangan perubahan iklim. Kegiatan Earth Hour, sambungnya, berusaha menunjukkan perilaku sederha “Makna dari kegiatan ini, yaitu mulai saat ini kita harus melakukan pola hidup baru dengan menghemat pemakaian listrik,” ujar Fauzi Bowo.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berbasis pada pemerintah, tetapi berbasis pada keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk dapat membudayakan pola hidup hemat di masa-masa yang akan datang. Dia mengajak agar seluruh warga Jakara menjadikan kegiatan Earth Hour dan program hemat energi sebagai momentum strategis yang perlu dilakukan secara tertus menerus, konsisten dan berkelanjutan. “Jakarta harus menjadi pionir di garis yang paling depan. Karena itu, masyarakat akan terus kita imbau agar secara terus menerus melakukan aksi ini, bukan hanya sekali setahun saja. Mari kita sukseskan Earth Hour 2009,” tukasnya.
Untuk menyukseskan aksi ini, Fauzi akan melakukan gerakan berbasis komunitas agar hasilnya lebih optimal dari yang sekarang ini. Hasilnya akan lebih baik daripada melaksanakannya dari top down melalui perintah atau instruksi bahkan dengan regulasi yang ketat sekalipun.
Sementara Chief Board of Director World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Kemal Stambul, menjelaskan, produksi rumah kaca Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam satu dekade terakhir ini. Dari sisi pemakaian energi yang meningkat, khususnya listrik, menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca juga meningkat. Dan emisi gas rumah kaca di Indonesia mayoritas berasal dari perubahan tata guna lahan.
Ia menuturkan, sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi yang juga salah satu kota terbesar dengan tingkat konsumsi listrik yang tinggi yaitu sekitar 20 persen. Pemakaian listrik terbesar di Jakarta berasal dari sektor rumah tangga dan komersial. Sementara itu baru sekitar 50 persen masyarakat Indonesia yang dapat menikmati layanan listrik, sisanya harus menerima keadaan gelap gulita di malam hari.
“Padahal listrik bukan hanya hak masyarakat di kota besar saja, melainkan hak seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu kesadaran masyarakat terutama yang berada di perkotaan harus menciptakan pola konsumsi listrik yang lebih efisien. Sehingga dapat memberikan kontribusi pada pembangunan Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan dari Sabang sampai Merauke,” kata Kema Stambul.
Untuk mendidik masyarakat perkotaan melakukan pengematan, kata Kema Stambul, salah satunya dengan melakukan kegiatan Earth Hour ini. Dan alasan WWF memilih Jakarta dalam program ini, dikarenakan peluang peningkatan efisiensi energi di Jakarta cukup besar yaitu sekitar 10-30 persen yang berasal dari sektor industri komersial, gedung pemerintah dan penerangan jalan umum serta rumah tangga.
Berdasarkan data yang dirilis WWF, dengan mematikan lampu selama satu jam di wilayah Jakarta, maka akan menghemat 10 persen dari konsumsi listrik rata-rata perjam. Daya itu cukup untuk mengistirahatkan satu pembangkit listrik dan mampu menyalakan 900 desa. Dengan dukungan penuh masyarakat, program itu juga mampu mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta, mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton, dan menghasilkan O2 bagi 568 orang.
Jakarta Gelap
Sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan Earth Hour, sejumlah wilayah di DKI Jakarta terlihat gelap. Misalnya, di Jakarta Timur. Untuk mendukung program Earth Hour, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur juga telah memberikan imbauan secara langsung kepada para camat dan lurah untuk turut menyosialisasikan kampanye perubahan iklim ini kepada pengelola gedung perkantoran swasta yang ada di wilayah masing-masing. “Semua kantor sudin, kecamatan serta kelurahan juga kami pantau agar mengikuti imbauan Gubernur DKI Jakarta untuk memadamkan lampu selama 60 menit, dan Alhamdulilah dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik,” kata Murdhani, Walikota Jakarta Timur.
Ia menuturkan, aksi pemadaman listrik selama satu jam ini sangat berarti untuk mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya melakukan penghematan energi. Apalagi kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan bertaraf internasional dengan tajuk Earth Hour yang digagas World Wildlife Fund (WWF).
Dalam kegiatan ini, Murdhani memimpin secara langsung pemadaman listrik di komplek kantor walikota Jakarta Timur dengan memutus arus listrik di ruang travo. Dalam aksi tersebut, walikota didampingi Asisten Pemerintahan Jaktim, Husein Morad serta Kasudin Kominfo Jaktim, Yunus. Setelah mematikan arus listrik, selama 60 menit, Murdhani berkumpul bersama beberapa kepala bagian dan juga asisten di halaman kantor Walikota Jaktim. “Saya harap warga jaktim baik individu maupun pengusaha yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan bumi ini,” harapnya.
Selain di Jaktim, sejumlah lokasi di wilayah Jakarta selatan juga terlihat gelap. Berdasarkan pantauan beritajakarta.com, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan terlihat gelap gulita. Suasana ini jelas berbeda dari hari-hari biasanya. Selain lampu penerangan jalan, beberapa gedung perkantoran pemeritahan maupun swasta juga terlihat telah gelap. Akibatnya, selama satu jam tersebut, di kawasan ini hanya terlihat lampu-lampu kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat yang hilir mudik baik dari arah Menteng menuju Mampang maupun dari arah sebaliknya.
Hal yang sama juga terlihat di Pasar Festival. Hanya saja sejumlah lampu hias tidak dipadamkan, sehingga masih terlihat menyala dan membuat suasana tidak terlalu gelap. Otma Ijon (43), salah seorang sopir taksi, mengaku tidak tahu dengan adanya rencana pemadaman secara serentak ini. “Waduh, nggak tahu itu, kenapa ini tiba-tiba jadi gelap tidak seperti biasanya,” kata sopir taksi yang mengaku tiap malam mangkal di depan Pasar Festival tersebut.
Sementara di Jakarta Barat, kegiatan Earth Hour nampaknya tidak berjalan dengan baik. Sebab, sebagian besar gedung perkantoran swasta di Kawasan Cengkareng dan Kembangan tidak memadamkan lampu. Namun tidak demikian dengan gedung-gedung perkantoran pemerintah.
Wakil Walikota Jakarta Barat, Burhanuddin mengatakan, Pemkot Jakbar telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar bersedia memadamkan lampu selama satu jam pada pukul 21.00 hingga 22.00 melalui kecamatan dan kelurahan. “Dalam rapat koordinasi Jumat kemarin, walikota sudah mengimbau agar camat dan lurah mengajak masyarakat untuk memadamkan lampu, karena ini bentuk kepedulian atas komitmen bersama manusia didunia ini,” kata wakil walikota.
Terkait dengan peran serta masyarakat dan kesadaran masyarakat yang tergolong rendah, mantan Sekko Jakarta Timur ini mengatakan, pemadaman lampu di semua sektor dan bidang baik perusahaan, pemerintahan, dan masyarakat umum hanya sekedar ajakan dan tidak ada tekanan. “Sifatnya ajakan. Jadi, tidak ada sanksi atau paksaan untuk melakukan itu. Ya, kita berharap semua elemen di Jakbar dapat berpartisipasi,” tandasnya.
Untuk menyukseskan kegiatan Earth Hour di Jakarta, kawasan Monas di Jakarta Pusat juga menjadi bagian kegiatan akbar ini. Selama satu jam kawasan Monas terlihat gelap. Seluruh lampu taman yang ada di areal seluas 80 hektar ini dipadamkan, dan hanya lampu sorot yang menyinari puncak tugu Monas saja yang terlihat menyala. Kendati kawasan Monas terlihat gelap, namun tak menyurutkan semangat warga Jakarta untuk menyaksikan pelaksanaan kampanye pengurangan laju perubahan iklim global di DKI Jakarta. Warga Jakarta yang berkunjung ke kawasan Monas tampak terhanyut merenungi betapa pentingnya melakukan penghematan energi demi kelangsungan kehidupan di bumi.
Selain di kawasan Monas, sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta Pusat juga tampak gelap. Diantaranya, Jalan MH Thamrin, Jalan Budi Kemulyaan, Jalan Raya Kebon Sirih, Jalan Merdeka selatan, dan Jalan Merdeka. Situasi gelap juga terlihat di sejumlah gedung perkantoran, diantaranya gedung perkantoran Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Komplek perkantoran Bank Indonesia (BI), Gedung Indosat, Balaikota DKI Jakarta, dan Gedung Pertamina.
Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni mengungkapkan, pemadaman listrik ini sesuai dengan instruksi dari Gubernur DKI Jakarta. Dan kegiatan ini juga diikuti sebagian besar pengelola gedung perkantoran swasta dan pemerintah yang ada di wilayah Jakarta Pusat. “Hampir seluruh titik sudah kita sosialisasikan dan kita imbau untuk melakukan pemadaman kecuali rumahsakit,” kata walikota.
Menurutnya, sosialisasi telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan kegiatan Earth Hour dengan cara memasang spanduk-spanduk yang berisi ajakan untuk memadamkan listrik yang dilaksanakan oleh pihak kelurahan hingga Kecamatan di wilayah Jakarta Pusat. “Selain sepanduk, kita juga menyebar beberapa sms (short message sevice-red) serta mengirimkan imbauan melalui e-mail kepada jajaran pegawai di lingkungan Jakpus untuk menyukseskan kegiatan ini,” tandas mantan None Jakarta itu.@SumberBeritajakarta.com